Islamedia:Insiden jabat tangan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dengan Ibu Negara Amerika Serikat Michelle Obama menjadi topik di sejumlah media massa Amerika Serikat. Mengutip kantor berita Associated Press, situs The Washington Post dan Chicago Tribune memuat berita soal salaman tersebut.
Situs The Washington Post menulis berita bertajuk, “Minister admits reluctant Michelle Obama handshake,” atau “Menteri mengaku grogi bersalaman dengan Michelle Obama”.
Sementara, Chicago Tribune mewartakan berita tersebut dengan judul, “She made me do it: Conservative Muslim Indonesia minister says Michelle Obama forced handshake”, atau “Dia membuat saya melakukan itu: Menteri Indonesia dari kalangan Muslim Konservatif mengaku Michelle Obama bersikeras untuk bersalaman.”
Dalam akun Twitter @tifsembiring, Tifatul menulis mengenai insiden tersebut: “"Sudah ditahan dua tangan, eh Bu Michele nya nyodorin tangannya maju banget...kena deh."
Sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berusaha menjalankan ajaran Islam yang Kaffah (menyeluruh tanpa parsial), Tifatul memang dikenal pantang berjabat tangan dengan lawan jenis. Sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad yang melarang umatnya untuk menyentuh siapapun yang bukan Mahram.
Menanggapi insiden tersebut yang menjadi pergunjingan masyarakat, Tifatul mengatakan insiden salaman itu tidak disengaja. "Heran juga ya, kok saya aja yang diomongin tweeps," tulisnya. Kondisi terpojok yang dialami oleh Tifatul Sembiring semoga dapat membuka mata masyarakat Indonesia dan dunia, bahwa tidak sepatutnya Ibu Negara dari Negara Amerika yang menjunjung kebebasan memaksakan kehendak keyakinan pihak lainya, termasuk dalam hal bersalaman dengan bukan Mahram. Pemaksaan Keyakinan yang dimiliki boleh jadi dapat menimbulkan ketidaknyamanan dari pihak lain.[islamedia/vito]
|
Ia seorang muslimah, menutup aurat dengan sempurna, cerdas, berpendidikan tinggi, mengerti banyak hukum agama, dari keturunan yang baik, tumbuh di lingkungan yang baik pula, berbaur dengan orang-orang shalih, kaya, tidak punya cacat fisik, bahkan tergolong wanita cantik. Lalu, apa lagi yang kurang? Ya, begitulah gambaran dari Anna Althafunnisa, seorang tokoh utama dari novel karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih, yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul film yang sama pula. Dan yang seperti kita ketahui bersama, seperti halnya novelnya yang laris manis, film ini pun laku keras di pasaran. Kemudian tak lama setelahnya, sosok Anna Althafunnisa begitu melekat di benak para muslimah, mampu menjadi ikon tentang muslimah yang seharusnya. Setidaknya ini saya lihat ketika diamanahi mendampingi tiga puluh delapan muslimah masa peralihan dari belia ke dewasa yang sedang menjalani hidupnya di awal-awal semester kuliah. Melihat kapasitas dan kualitas kemuslimahan Anna Althafunnisa dalam gambaran cerita tersebut, pantas saja kalau kemudian dalam angan, ia adalah sosok muslimah ideal masa kini. Namun ada yang menarik untuk dicermati dan diurai hikmahnya bersama. Bahwa seideal-idealnya muslimah, tetaplah ia wanita bumi yang sangat mungkin berbuat khilaf dan punya kekurangan di sana-sini di balik kelebihannya yang berlimpah. Pun pembahasan ini bukan untuk mencari-cari kesalahan seseorang, tapi semoga mampu mengasah sikap kritis kita, agar tak selalu mengangguk setuju pada tokoh yang diidolakan. Ada dua peristiwa bersejarah dalam hidup Anna yang menarik untuk dicermati, yaitu ketika prosesi khitbah dan penyebab perceraian dalam biduk rumah tangganya. Dalam prosesi khitbahnya, kita dapati syarat Anna sebelum mengiyakan lamaran adalah, bahwa tidak adanya wanita lain kelak dalam rumah tangganya, alias ia menginginkan menjadi wanita satu-satunya dalam hati sang suami. Banyak muslimah yang 'terhipnotis' dengan pernyataan Anna, bahwa ia ingin seperti Fatimah dan Ibunda Khadijah yang tak pernah diduakan seumur hidupnya. Tak ada yang salah dengan keinginannya ini, tapi jangan lupa, bahwa kita juga punya si cerdas Aisyah yang tetap bahagia dengan Rasullullah padahal ia bukan wanita satu-satunya dalam kehidupan beliau, kita punya panutan seperti Zainab, Hafsah, dan masih banyak lagi pribadi-pribadi luar biasa yang mampu menjalani takdirnya sebagai seorang isteri yang bukan satu-satunya. Mungkin menjadi hal yang sangat wajar syarat itu diajukan oleh wanita biasa dan kebanyakan, tapi menjadi tidak wajar bahkan janggal bagi seorang muslimah putri Kyai yang tentunya sedari kecil telah tumbuh dengan didikan Islami seperti Anna. Di sinilah Anna telah gagal bersikap bijak sebagai seorang muslimah, karena pada kenyataannya ia yang telah banyak mengerti hukum agama yang seharusnya lebih bisa taat pada Allah dan RasulNya, bersikap seperti wanita pada umumnya. Maka wajarlah jika timbul pertanyaan logis, kalau seorang muslimah sekredibel Anna saja 'menolak' dipoligami, bagaimana dengan wanita pada umumnya? Menarik pula apa yang diumpamakan Anna tentang sikapnya pada poligami, bahwa jika ia tidak menyukai jengkol dan tidak memakannya bukan berarti ia mengharamkan jengkol. Hal yang logis, tapi kurang tepat dijadikan perumpamaan. Karena yang sedang kita bicarakan ini berupa syari'at Islam. Dalam hal ini sama saja Anna mengatakan, bahwa ia tidak suka dipoligami, tapi bukan berarti ia mengharamkan poligami. Penegasan yang ingin disampaikan Anna di sini adalah bahwa poligami tetaplah halal, tapi ia tidak menyukainya. Inilah yang perlu hati-hati kita telaah. Bagaimana mungkin seorang muslim/mah tidak menyukai apa yang pernah dilakukan oleh sang Nabi SAW, dimana kita sering mengaku berkiblat pada qudwahnya? Sementara bagian dari yang disebut sunnah adalah setiap perbuatan yang pernah dilakukannya. Sikap ini yang perlu kita pertegas, bahwa sebagai ummat Nabi SAW, kita penyuka sunnahnya. Tapi, bukan berarti setiap kita bisa dan mampu melakukan apa yang pernah dilakukan oleh sang Nabi SAW. Itulah salah satu hikmah yang bisa kita gali kenapa berhukum sunnah, bukan wajib. Kembali ke pernyataan Anna, tentu saja akan lain maknanya jika Anna berkata bahwa ia tidak memakan jengkol karena dia tak tahan dengan baunya, dan khawatir juga baunya akan tercium ke orang di sekitarnya. Atau perumpamaan lain yang semakna, misalnya saya tidak makan rujak karena sekarang saya sedang sakit perut, saya tidak minum air es karena sekarang saya sedang pilek, atau saya tidak memakai warna hitam karena hari ini panas sekali. Sejarah hidup Anna yang kedua adalah ketika ia mengetahui bahwa Furqan, suaminya, mengidap HIV. Yang dengan alasan inilah Anna meminta cerai. Sebuah hal yang halal memang, tapi dibenci oleh Allah SWT. Diceritakan di situ, bagaimana Anna begitu marah, langsung kehilangan kepercayaan, dan ujungnya meminta cerai. Mari kita bahas peristiwa ini dalam perspektif kehidupan muslimah ideal yang seharusnya sesuai dengan syari'at Islam. Ketika seseorang marah karena mendapati dirinya telah dibohongi, itu hal yang wajar. Tapi bagi seorang Anna Althafunnisa, tentunya sudah hafal di luar kepala hadits Nabi SAW tentang perintah menahan marah. Kenapa ia tidak berupaya melakukannya? Melakukan kebajikan dengan cara menahan marah. Dan sangat mustahil Anna yang lulusan Al-Azhar Mesir itu tidak mengetahui kalau Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Di sinilah kita lihat ego dan nafsunya bermain dan menghalanginya untuk duduk, berbaring, wudhu, atau shalat daripada meluapkan kemarahannya. Andai saja Anna dapat menahan amarahnya dan sedikit saja berlapang dada, mungkin perceraian itu tidak akan pernah terjadi dan cerita pun akan lain. Ia akan lebih bisa mendengar apa yang dikatakan sang suami, ia akan berupaya mengerti tentang posisi suami, bahkan mungkin dia akan bersikap sebaliknya, misalnya tetap memberi dukungan moral pada seseorang yang telah diangkat menjadi imamnya. Atau sebagai seorang 'partner' yang baik, ia akan tetap mengibarkan bendera optimis dengan mengatakan, "Coba kita cek lagi ke dokter, sangat mungkin kekeliruan terjadi pada saat pemeriksaan dulu, engkau orang baik dan suka memudahkan urusan orang lain, yakinlah Allah tak kan mendzalimimu." Ya, andai saja Anna lebih mampu sedikit bersabar dan menunggu, maka perceraian itu tidak akan pernah terjadi. Karena dalam alur cerita selanjutnya, ternyata hasilnya negatif setelah Furqan memeriksakan diri. Namun sayang, bukan sikap seperti itu yang Anna lakukan. Padahal pada saat itu posisi Anna adalah seorang isteri. Isteri yang sangat tahu betapa mulianya kedudukan seorang Adam ketika ia telah menjadi seorang suami, sampai-sampai Nabi SAW pernah menyabdakan, jika diperbolehkan menyembah selain Allah, niscaya ia akan menyuruh setiap isteri menyembah suaminya. Lalu, isteri shalihah macam apakah yang lantang bernada tinggi penuh amarah ketika berbicara di depan suaminya? Inilah sikap Anna yang perlu kita kritisi, bahwa selayaknya seorang muslimah tetap berupaya mengendalikan dirinya dalam keadaan apapun. Seperti halnya tetap berupaya taat pada semua perintah Allah SWT, dalam keislaman yang kaffah. Ana Althafunnisa, seorang muslimah cerdas yang memiliki banyak hal lebih dalam dirinya, tetaplah manusia biasa. Namun, tak dapat dipungkiri, bahwa terlepas dari kekurangannya, ia tetap menjadi sosok wanita luar biasa yang patut diikuti sepak terjangnya dalam merunut hidup menjadi wanita seperti yang diinginkanNya. Banyak hal baik yang bisa kita gali dan teladani, bahkan apa yang ada padanya mampu dijadikan motivasi agar kita menjadi semakin lebih baik. sumber: www.eramuslim.com
|
Indahnya bunga. Keindahannya mampu melahirkan aneka keindahan baru. Wewangian yang menyegarkan. Juga, keserasian bentuk dan warna yang menakjubkan dan menenteramkan. Sayangnya, tiupan angin kerap membuat bunga terkoyak. Keindahannya pun menjadi pudar. Betapa nikmatnya hidup kala mampu membuat orang-orang tercinta tetap tersenyum. Bahagia, damai. Hidup menjadi begitu bergairah. Seberat apa pun beban kehidupan, demi senyum, akan terasa ringan. Sayangnya, tidak semua orang mampu mencetak senyum untuk waktu yang lama. Selalu saja ada badai yang membuat jalan hidup tak lagi seperti di jalan tol. Muncullah kerikil-kerikil masalah. Bahkan, koral-koral konflik yang siap mengoyak senyum untuk waktu yang cukup lama. Seperti itulah bayang-bayang rasa Pak Deden. Sepuluh hari sudah ia nyaris tak mendapati senyum-senyum yang biasa hinggap dalam pandangannya. Senyum orang-orang yang ia cintai. Semua hampir terkubur bersamaan dengan kecelakaan mobil yang ia alami. Sejak itulah, Pak Deden tak lagi bisa menjalankan bisnisnya. Dokter pernah bilang kalau ia baru bisa benar-benar sembuh dari patah tulang kaki dan tangan sekitar empat hingga lima bulan. Itu pun dengan catatan. Ia tak lagi bisa tampil seperti dulu. Ada cacat tubuh yang harus ia terima untuk waktu yang cukup lama. Mungkin tahunan. Atau, sama sekali tak pernah sembuh. Masalahnya, bukan bertumpu pada sakit dan cacat. Insya Allah, Pak Deden menerima itu sebagai musibah. Ia harus terima ketentuan Allah itu dengan lapang dada. Tanpa protes. Apalagi buruk sangka. Tapi, bisnis percetakan yang baru beberapa bulan ia geluti menanti hak. Sebagian besar modalnya berasal dari pinjaman. Jumlahnya lumayan besar, hampir dua ratus juta rupiah. Gimana mungkin bisa ia kembalikan, kalau bisnis itu tak lagi bisa ia tangani. Padahal, ia sudah terlanjur janji kalau modal itu bisa ia kembalikan dalam waktu setahun. Dan tenggat itu tinggal beberapa bulan. Belum lagi buat biaya pengobatan. Mobil satu-satunya sudah terjual buat biaya rumah sakit. Pak Deden merasa tak ada lagi yang bisa ia uangkan, kecuali motor dan dua sepeda anak-anaknya. Kalau rumah tak mungkin. Soalnya tanah dan rumah berukuran seratus meter itu masih milik orang tua. Pak Deden benar-benar bingung. Pusing. Kalau saja bukan karena keimanan, ia ingin lari saja dari dunia ini. Ia ingin pergi jauh sekali. Dan tak akan pernah kembali. Sesekali ia menatap lekat isteri dan dua anaknya. Setiap kali tatapan itu jatuh ke wajah mereka, pantulan sedih dan susah mengoyak hati Pak Deden. Nyaris, tak ada lagi senyum menghias wajah manis isterinya. Tak ada lagi senyum canda anak-anaknya yang masih sekolah dasar. Semuanya seperti tersulap, hilang dalam sekejap. Dua minggu yang lalu, pemandangan itu tak pernah terbayang Pak Deden. Masih segar dalam ingatanya, bagaimana di hari Ahad terakhir itu ia berlibur ke kawasan puncak. Indah. Keindahan alam itu belum seberapa dibanding dengan pemandangan senyum-senyum yang terukir dari balik bibir isteri dan anak-anaknya. Kedengarannya begitu renyah. Membuat arena hidup jadi begitu berwarna. Sebuah harga yang teramat mahal untuk sebuah keluarga. Masih terbayang bagaimana Pak Deden berlari-lari mengejar si bungsu yang baru bisa bersepeda. Larinya kian bersemangat saat sang anak mengeluarkan tawa riang. “Terus…, goes terus, Nak!” suara Pak Deden sambil terus berlari dengan kakinya yang masih sehat. Masih segar dalam ingatan Pak Deden bagaimana ketika ia pulang membawa televisi baru. Tak seorang pun yang tak senyum kala itu. Sambil berjingkrak kecil, kedua anaknya menemani sang ayah membuka kardus. Saat itu juga, isteri tercintanya menghampiri. “Lancar bisnisnya, Yah?” suara sang isteri sambil ikut melihat. Perlahan, Pak Deden membuka pembungkus televisi baru itu dengan kedua tangannya yang sehat. Kini, kaki dan tangannya tak lagi seperti dulu. Jangankan mampu membuahkan senyum, menggerakkannya pun sudah susah. Justru, kaki dan tangannya menjadi bahan tangis orang-orang yang ia cintai itu. Andai, ia tak terlalu ngebut waktu itu. Andai ia menuruti nasihat isterinya. Andai…. “Astaghfirullah,” suara Pak Deden beriring nafasnya yang mulai tak beraturan. Ia berusaha menutup rapat pintu-pintu setan. Semua kehendak Allah. Akan selalu ada kebaikan di balik itu. Lagi-lagi, Pak Deden beristighfar. Mungkin, ada salah yang tak ia sadari. Mata Pak Deden menyapu sekeliling ruangan. Sepi. Hari menjelang siang seperti itu memang biasa sepi. Kecuali, isterinya yang saat ini mulai mengajar. Kedua anaknya masih sibuk-sibuk di sekolah. Ah, kayak apa air muka mereka saat ini. Pak Deden mencoba menangkap kesan. “Semoga mereka tetap tersenyum. Semoga, hidayah Allah memberkahi senyum-senyum hati mereka. Semoga, masih banyak senyum di balik jendela lusa,” ucap Pak Deden dalam hati. Menatap senyum memang tak ubahnya seperti menikmati indahnya bunga. Segar, menenangkan. Namun, bukan salah angin bertiup kencang. Dan bukan dosa angin yang membuat bunga terkoyak. Kitalah yang mesti cermat menggali. Dengan cara apa lagi, bunga senyum lain bisa hadir kembali. sumber : www.eramuslim.com
|
Paradoks dengan sebagian besar umat Islam di dunia yang kebanyakan bisa dikatakan 'meragukan' langsung maupun tidak langsung kebenaran kitab sucinya sendiri dan lebih 'percaya' ideologi lain dengan berbagai alasan, namun Rabbi Yahudi justru sangat yakin kebenaran kitab Taurat dibandingkan ideologi buatan manusia yang sangat digandrungi umat Islam saat ini yaitu Demokrasi. "Rabbi Yahudi tidak terikat oleh pembatasan yang ada di demokrasi" - menurut Rabbi Elyakim Levanon, salah satu rabbi senior dari Yudea dan Samaria. Pada debat membahas keterlibatan rabbi di dalam perjuangan umum, pada hari Rabu lalu, Rabbi Levanon menyatakan bahwa sistem pemerintahan demokratis dan pengambilan keputusan telah "mendistorsi realitas" karena menciptakan sebuah jalan tengah kompromi yang palsu, itulah sebabnya rabbi berkomitmen untuk Taurat sebagai "kebenaran mutlak" - dan tidak berkomitmen untuk demokrasi. Pada perdebatan, rabbi Levanon dirujuk kepada pernyataan kontroversial yang dibuat oleh dirinya dan rekan-rekannya yang memutuskan bahwa rabbi memiliki hak istimewa untuk menjaga pendapat mereka kepada diri mereka sendiri, bahkan jika hal itu bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi, namun mereka merujuk kepada Taurat. "Orang-orang dipaksa untuk mengatakan 'setengah kopi, setengah teh'," klaimnya, "Sedangkan rabbi bebas untuk berpikir murni, pikiran yang jelas, bahkan jika komentar mereka mungkin tampak aneh di mata orang. Rabbi bisa mengatakan hal-hal yang politis, legalis sedangkan pemikir demokrasi tidak bisa." Bagaimana dengan umat Islam hari ini? Demi sebuah kekuasaan, sebagian umat Islam lebih yakin dengan ideologi yang namanya Demokrasi. Dengan berbagai alasan dan ngeles, sebagian umat Islam lebih percaya jalur demokrasi dalam menegakkan Islam. Mereka secara tidak langsung ragu dengan kebenaran mutlak Al-Quran maupun sunnah Rasulullah SAW.(fq/ynet) sumber : www.eramuslim.com
|
Demokrasi di abad milenium ini telah menjadi mesin 'pembunuh' terhadap golongan yang tidak disukai. Dengan mesin propaganda media, dan seorang agitator yang ‘idiot’ sekalipun, asalkan mendapatkan ‘covered’ media akan menjadi seorang pahlawan. Berikutnya dia akan menjadi pemimpin politik, yang dapat bertindak sesuai dengan nalurinya. Inilah saat sekarang yang terjadi di di negara Barat, khususnya di Uni Eropa. Tengoklah peristiwa yang terjadi di Belanda. Bagaimana Belanda sekarang berubah menjadi ‘big bang’ bagi seluruh daratan Uni Eropa. Semuanya bermula dari mulut seorang tokoh sayap kanan, Weelders, yang memimpin Partai Kebebasan (PVV), yang dengan lantang meneriakkan pengusiran kaum imigran dan muslim dari negeri itu. Weelders yang mula-mula sebagai tokoh phobia Islam, dan penghina Islam, terus beranjak, dan sekarang masuk dalam pemerintah Belanda, dan mempunyai posisi kunci, karena berhasil memenangkan sejumlah kursi, yang cukup signifikan. Sehingga, memiliki posisi tawar yang sangat kuat di dalam ‘mainstreams’ politik negeri Kincir ini. Tetapi, gaung dan teriakan Weelders, yang sangat ekstrim, dan selalu meneriakan pandangan yang sangat benci terhadap imigran dan Islam, ternyata mendapatkan sambutan gegap gempita, di hampir seluruh daratan Uni Eropa. Indikasinya semakin nampak kasat mata. Perubahan-perubahan politik terus bergulir di seantero Eropa, dan dengan masuknya kelompok sayap kanan di hampir semua pemerintahan baru di Uni Eropa. Partai-partai berkuasa di seantero Eropa yang dominan, seperti di Perancis, Jerman, Inggris, Swedia, Belanda, Austria, dan Spanyol, harus berkolaborasi dengan partai-partai baru yang berhaluan sayap kanan. Partai-partai yang berkuasa tak dapat membentuk pemerintah baru, tanpa harus mengikut sertakan partai baru yang berhaluan kanan. Sepanjang sejarah politik di Eropa, baru sekarang ini kaum sayap kanan,yang memiliki pandangan yang naif terhadap imigran dan Islam menjadi sebuah ‘mainstream’ baru. Peristiwa WTC yang terjadi di New York, yaitu 11 September 2001, seperti dentang ‘lonceng’ di Gereja, yang menyeruak ke seluruh penjuru dunia, terutama di Barat, yang memberikan ‘warning’ tentang bahaya teroris dan fundamentalis Islam, yang akan menghancurkan Barat. Inilah yang sekarang terus berlangsung, yang disebut dengan perang global melawan terorisme. Sekalipun sang pencetus telah turun dari tahtanya di Gedung Putih, yaitu George Walker Bush, dan digantikan Barack Obama, tetapi persepsi dan perasaan dikalangan masyarakat Barat telah tertanam adanya ancaman dari Islam dan umat Islam. Sekalipun, berulang kali para pemimpin Barat, selalu menegaskan perang melawan terorisme itu bukan perang melawan Islam dan umat Islam. Tetapi, semua fakta telah membantah, dan semuanya menunjukkan, bagaimana Barat, termasuk Uni Eropa sekarang dibenak rakyat dan para politisinya telah tertanam dalam-dalam tentang ancaman dari funamentalis Islam. Belum lama ini, intelijen Inggris memberikan peringatan yang sangat signifikan tentang kemungkinan akan terjadi serangan teroris terhadap kota-kota penting di Eropa. Semua bumbu-bumbu yang disuguhkan para pejabat intelijen Barat itu, semakin menambahkan kalangan politisi di negara-negaranya meneriakan teriakkan yang lebih lantang mengusir kaum imigran muslim yang sekarang telah berada di negeri-negeri Uni Eropa. Mereka melupakan sejarah perkembangan negara-negara Eropa, yang sekarang menjadi modern dan makmur, dan dengan kehidupan yang sangat mentakjubkan, tak lain dari dari hasil merampok dan menjajah negeri-negeri muslim. Mereka tidak akan dapat sekaya seperti sekarang ini, tanpa mereka merampok dan menjajah negeri-negeri muslim. Mereka tidak mungkin mencapai peradaban industri seperti sekarang ini, tanpa mereka mengeksploitasi kekayaan yang dimiliki negeri-negeri muslim. Sampai hari ini. Para imigran itu mereka ikut andil dalam membangun Eropa. Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Mereka telah menguras dan mengeksploitasi seluruh kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Perancis, Inggris, Jerman Itali, dan Spanyol, mereka telah pula negara-negara Arab dan Afrika Utara, yang sampai hari ini masih bercokol. Berapa banyak kekayaan yang telah mereka rampas? Weelders politisi sayap kanan Belanda, yang mempunyai cita-cita ingin mengusir imigran muslim dari negaranya, menunjukkan sikap yang sangat paradoks. Weelders yang masih keturunan Yahudi, mempunyai pandangan yang tak berbeda dengan Perdana Israel Benyamin Netanyahu dan Menlu Israel Avigdor Lieberman, yang juga mempunyai sikap sangat rasis dan rasialis, dan akan mengusir seluruh orang Arab yang ada di Israel, termasuk di wilayah yang diduduki Israel seperti Jerusalem Timur dan Tepi Barat. Jadi demokrasi yang didengung-dengungkan Barat itu, tak akan memberikan kesempatan secara ‘equal’ kepada penduduknya, khususnya terhadap umat Islam. Bahkan, sikap itu terjadi di negeri-negeri muslim, di mana para penguasanya yang merupakan kaki tangan penjajah itu, mereka tidak memberikan kesempatan secara ‘equal’ terhadap kelompok-kelompok umat Islam untuk eksis secara politik. Ini terbukti seperti yang terjadi di Aljazair, di mana saat FIS memenangkan pemilu, kemudian dibubarkan dan para pemimpinnya dipenjarakan. Di Palestina, Hamas tidak diberikan kesempatna untuk eksis, justru yang mendapatkan dukungan adalah kelompok Fatah yang dipimpin Mahmud Abbas, yang tak lain adalah boneka Barat. Begitulah demokrasi. Wallahu’alam. sumber : www.eramuslim.com
|
Surat kabar Mesir melaporkan bahwa sekelompok anak muda dari Mesir dan negara-negara Arab serta Israel yang menyebut diri mereka "Satanist" telah kembali mempraktekkan ritual terlarang di Mesir di salah satu daerah wisata, setelah bertahun-tahun aktivitas kelompok pemuja setan ini dilarang. Aktivitas ritual mereka ini biasanya disertai dengan pesta minum khamar dan praktek seks bebas sesama anggota. Surat kabar Mesir "Al-Mishriyah" Ahad kemarin (10/10) mengatakan bahwa ritual kelompok pemuja setan di Mesir ini terjadi pada pekan lalu di Taba yang merupakan salah satu lokasi wisata dekat dengan perbatasan Israel. Al-Mishriyah melaporkan sejumlah anak muda berusia sekitar 18 hingga 30 tahun telah melakukan ritual pemujaan setan di sebuah kamp di salah satu gunung yang ada di daerah itu, dan menurut laporan mereka terlihat menari sambil minum khamar dan bahkan ada yang meminum darah yang diakhiri dengan praktek seks bebas. Ritual kelompok pemuja setan ini berlangsung pada malam hari dan berakhir di waktu fajar, sejumlah laki-laki dan perempuan muda terlihat berbicara dalam dialek teluk bersama dengan peserta lain yang berasal dari Mesir dan Israel, menurut laporan dari surat kabar Al-Mishriyah. Pihak berwenang Mesir sebelumnya telah menangkap lebih dari 100 pria dan perempuan muda pada bulan Januari tahun 1997 lalu setelah mereka dicurigai merupakan anggota kelompok "satanist". Namun menurut laporan, aktivitas anggota kelompok pemuja setan ini telah bertahun-tahun berlangsung sebelum akhirnya ada penangkapan, laporan mengatakan bahwa seorang warga Israel yang merupakan profesor di American University di Kairo diklaim sebagai salah satu tokoh yang mempromosikan aktivitas "penyembahan setan" di Mesir. Surat kabar itu, mengutip perkataan seorang peserta asal Mesir yang ikut dalam ritual upacara tersebut, yang menyatakan bahwa mereka telah memulai melaksanakan kegiatan mereka sejak empat tahun yang lalu. Perekrutan anggota mereka lakukan lewat chatting di internet dan situs jejaring sosial. Dia mengatakan bahwa titik pertemuan anggota kelompok pemuja setan ini mencakup orang dari luar Mesir, dan sering praktek ritual pemujaan setan mereka dilangsungkan di Kairo dan di Taba dan daerah-daerah pantai lainnya atau di sebuah vila milik salah satu anggota kelompok yang ada di Kairo. Dinyatakan juga bahwa ada prinsip-prinsip umum bagi anggota kelompok pemuja setan ini, termasuk anggota perempuan harus kehilangan keperawanannya dan harus ikut berpartisipasi dalam pesta seks yang mereka lakukan.(fq/imo) sumber : www.eramuslim.com
|
Anak adalah amanah yang diberikan Allah Swt pada para orang tua. Karenanya, orang tua berkewajiban mengasuh, mendidik, melindungi dan menjaga amanah Allah itu agar menjadi generasi muslim yang bukan hanya sukses di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Dalam keseharian, para ibulah yang memegang peranan penting dalam pengasuhan dan pendidikan putra-putrinya. Pernahkah para ibu merenungkan sejauh mana peranan yang mereka mainkan akan berpengaruh dalam perjalanan hidup si anak? Kita semua tahu bahwa semua perbuatan manusia selama di dunia dicatat dalam sebuah buku yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Begitu pula anak-anak kita kelak, dan isi catatan buku mereka selama di dunia sangat tergantung dengan bagaimana cara kita mendidik mereka, apakah kita menerapkan pola pengasuhan dan pendidikan yang cukup Islami. Sebagai contoh, apakah anak-anak kita sekarang sudah memahami tentang hubungannya dengan Sang Pencipta? Nasehat apa yang akan kita berikan pada anak-anak ketika kita menjelang ajal, sehingga ketika kita dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt tentang anak-anak kita, kita mampu menjawab, "Ya Allah, aku membesarkan anak-anakku dengan ihsan (sempurna) semampu yang saya bisa, agar taat dan tunduk pada ajaran-Mu." Di tengah perkembangan zaman seperti sekarang ini. Tugas mendidik, menjaga dan melindungi anak dari pengaruh buruk arus globalisasi dan modernisasi, bukan perkara yang ringan. Bekal pendidikan dari sekolah berkualitas, menanamkan rasa tanggung jawab dan disiplin serta moral tidak cukup, jika tidak diimbangi dengan bekal pendidikan agama yang baik. Bekal pendidikan rohani yang harus para ibu tanamkan sejak dini adalah membangun keyakinan yang kuat dalam hati mereka tentang ke-esa-an Allah Swt, mengajarkan rasa cinta yang besar pada Nabi Muhammad Saw dan mengajarkan mereka nilai-nilai serta ketrampilan yang akan bermanfaat bagi kehidupan mereka saat dewasa nanti. Sejak dini, tanamkan pada diri anak-anak tentang konsep Tiada tuhan Selain Allah. Allah tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Selalu mengingatkan pada anak-anak bahwa Allah Mahatahu apa yang ada di bumi dan di langit, agar anak-anak selalu menjaga ucapan dan tindakannya. Beritahukan pada anak-anak, apa sesungguhnya tujuan hidup ini dan arahkan mereka agar tetap fokus dan memiliki visi yang jelas tentang konsep hidup. Itulah tantangan bagi para ibu untuk menghasilkan generas-generasi muslim yang hebat dan bermanfaat bagi umat. Generasi yang tidak hanya cerdas intelektual tapi juga cerdas dari sisi sosial, emosi dan spiritual. Tentu saja untuk melakukan itu semua, para ibu harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk mendidik dan berinteraksi dengan anak-anak. Tips-tips berikut bisa menjadi acuan bagi para ibu dalam menerapkan pola asuh dan pendidikan bagi anak-anak di rumah, agar menjadi generasi yang Islami: 1. Setiap anak itu unik Kita harus memahami bahwa setiap anak terlahir unik. Pahami bahwa setiap anak lahir sebagai individu yang mewirisi kualitas kepribadian yang berada di luar kendali orang tua. Itulah sebabnya, orang tua harus mampu mengidentifikasi karakteristik yang unik dan perilaku anak-anak kita, tanpa harus mencetak dan mendorong anak-anak ke arah yang orang tua sukai. Jika kita memahami hal ini, kita akan memberikan pengasuhan, bimbingan dan dukungan yang anak-anak butuhkan untuk melengkapi potensi yang telah Allah berikan pada mereka. 2. Membangun dan menanamkan tentang kasih sayang Allah Swt pada anak-anak Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (Surat At-Tahrim;6). Tanamkan pada anak-anak bahwa tentang kecintaan dan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi adalah atas kehendak Allah. Ajarkan mereka selalu mengucapkan "La illaha illah Allah; jika anak meminta sesuatu, katakan pada mereka untuk berdoa, meminta pada Allah karena Allah yang memiliki segala sesuatu. Ajarkan kecintaan pada Allah saat santai dan berbincang-bincang dengan anak, agar mereka mudah memahami mengapa manusia beribadah, harus taat dan melaksanakan ajaran-Nya. 3. Salat Rasulullah Saw berkata, "Ajarilah anak-anakmu salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan ketika mereka berusia sepuluh tahun, hukumlah jika mereka melalaikan salat.". Orang tua harus membiasakan mengajak anak salat tepat waktu. Jadikah salat berjamaah sebagai kebiasaan dalam keluarga, bahkan jika anak masih di bawah umur, tak ada salahnya selalu mengajak mereka salat. Jika kewajiban salat sudah melekat kuat dalam diri anak, maka anak-anak akan terlatih untuk salat dengan khusyuk. 4. Kegiatan Sosial Ajaklah anak-anak sesering mungkin untuk melakukan aktivitas sosial, berjalan-jalan ke taman, berkunjung ke kebun binatang atau museum, belajar berenang, bertaman, mengamati matahari tenggelam, dan kegiatan lainnya. Sebisa mungkin, jauhkan anak dari kebiasaan nonton tv dan isi waktu luang mereka dengan aktivitas fisik, misalnya melakukan olahraga yang mereka sukai. 5. Berkumpul dengan Keluarga Biasakan berkumpul dengan seluruh keluarga, mendiskusikan berbagai isu yang merangsang semua anggota keluarga mengemukakan pendapatnya. Kebiasaan ini melatih rasa percaya diri anak dan kemampuannya bicara di muka umum dan akan mengakrabkan sesama anggota keluarga. Kebiasaan berkumpul ini juga bisa dilakukan dengan cara memainkan permainan yang melibatkan seluruh anggota keluarga atau memanfaatkan waktu makan, dengan membiasakan makan bersama. 6. Membangun kesadaran pada anak-anak akan pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan hidup Kesadaran ini harus dimulai dari rumah sendiri, dengan melibatkan anak-anak dalam urusan pekerjaan rumah. Mintalah anak memilih pekerjaan rumah apa yang bisa ia lakukan, apakah menyapu, mengepel, mencuci piring, untuk membantu meringankan tugas ibu di rumah. 7 Komunikasi Komunikasi adalah ketrampilan yang paling penting yang akan dipelajari anak-anak. Bicaralah pada anak sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Rasulullah Saw mencontohkan, saat bicara dengan anak-anak menggunakan bahasa yang sederhana dan jelas sehingga anak-anak mau mendengarkan dan bisa memahami apa yang disampaikan. 8. Disiplin Kita tahu bahwa disiplin dan pengendalian diri merupakan karakter utama seorang muslim. Kita belajar dan melatih diri tentang kedisiplinan dan pengendalian diri melalui ibadah puasa dan perintah Allah itu menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang dalam Islam. Orang tua harus menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak-anak, dan apa konsekuensinya jika hal itu dilanggar. Tentu saja larangan itu dalam batas-batas yang wajar. Misalnya, orang tua tidak melarang anak nonton tv sama sekali, tapi memberi batasan berapa lama anak boleh nonton televisi, misalnya cuma 30 menit. Orang tua juga harus menepati janji jika menjajikan sesuatu pada anak, karena jika tidak, anak akan menganggap orang tuanya tidak bisa dipercaya. 9. Rutin Membiasakan anak-anak melakukan tugas-tugasnya dengan rutin, misalnya salat tepat waktu, membaca dan menghapal Al-Quran, membaca hadis, membiasakan membaca doa-doa Rasulullah sebelum tidur, beramal meski cuma dengan senyum, dan kebiasaan lainnya yang akan menjadi kegiatan rutin bagi anak kelak. 10. Memberikan Teladan yang baik Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik bagi kaum Muslimin. Bacakanlah kisah-kisah tentang Rasulullah Saw, pada anak-anak agar anak-anak mengikuti Sunah-Sunahnya dengan rasa cinta. Bacakan pula kisah-kisah tentang para nabi, sahabat-sahabat Nabi, dan pahlawan-pahlawan dalam sejarah Islam sehingga tumbuh rasa cinta anak pada Islam. 11. Melakukan perjalanan yang menyenangkan Perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga tidak harus selalu mengunjungi tempat-tempat wisata, tapi bisa juga mengunjugi masjid-masjid lokal. Kunjungan ke masjid sekaligus mengajarkan anak tentang bagaimana etika berada di dalam masjid dan menumbuhkan rasa cinta pada masjid, terutama bagi anak lelaki. Selain masjid, ajaklah mereka berkunjung ke tempat-tempat bersejarah Islam agar mereka tahu warisan-warisan budaya dan sejarah Islam. Tips-tips di atas cuma menjadi acuan bagi para orang tua, khususnya para ibu untuk menanamkan pendidikan yang Islami sejak usia dini. Tentu saja ikhtiar ini harus didukung oleh doa orang tua yang tak putus-putus untuk anak-anak mereka, agar harapan akan anak-anak yang bertakwa pada Allah Swt terkabul. (ln/Khafayah Abdulsalam-ProdMuslim) sumber : www.eramuslim.com
|
Presiden Barack Obama semakin memperlihatkan keKristenannya di depan publik. Pertama dia mengangkat iman Kristennya di sebuah konferensi pers Gedung Putih bulan ini. Kemudian ia pergi gereja untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir. Dan pada hari Selasa kemarin (28/9) ia menjawab pertanyaan dengan luas yang berbicara tentang bagaimana ia memilih Kristen, bagaimana Yesus Kristus mempengaruhi hidupnya dan bagaimana ia berdoa setiap hari. Penampilan di depan publik terkait soal agamanya ini menandai perubahan dari tahun pertama dan setengah masa kepresidenannya, ketika persoalan keyakinan agamanya menjadi masalah di sebagian besar persoalan pribadinya - dan hal itu semakin memanas setelah adanya jajak pendapat yang mendapatkan bahwa semakin banyak orang Amerika yang berpikir dirinya seorang Muslim, atau tidak mengetahui agamanya. "Dia tampaknya berbicara tentang agamanya lebih banyak," kata John Green, seorang ilmuwan politik di University of Akron dan seorang rekan senior di Pew Forum on Religion and Public Life. "Itu Berbeda dengan 18 bulan sebelumnya di mana ia tidak berbicara tentang hal itu sama sekali." "Tindakan Obama kali ini secara demonstratif memperlihatkan keimanan kristennya karena sebelumnya dia tidak pernah terang-terangan berbicara soal agama," kata Dennis Goldford, seorang ilmuwan politik di Universitas Drake di Iowa. Obama telah menjadi seorang pria tanpa sebuah gereja sejak dia mengundurkan diri dari Trinity United Church of Christ di Chicago pada tahun 2008. Keanggotaan Obama di gereja tersebut yang telah menjadi politik yang memalukan setelah video terungkap yang menunjukkan khotbah ras inflamasi dan anti-Amerika oleh pendeta dan sahabat Obama Rev Jeremiah Wright. Obama menolak untuk bergabung dengan sebuah gereja di Washington, dan jarang menghadiri pelayanan, dengan mengatakan ia tidak ingin mengganggu jemaat. Dia tidak berkonsultasi dengan pendeta dan pengkhotbah secara pribadi, tetapi menghindar dari diskusi publik soal imannya - setidaknya sampai sekarang. Sikap diamnya itu tampaknya telah berubah sejak sebuah jajak pendapat Pew forum dirilis pada bulan Agustus lalu yang menemukan 18 persen orang Amerika mengatakan bahwa Obama adalah seorang Muslim, naik tajam dari 11 persen pada Maret 2009. Pada saat yang sama, jajaran orang Amerika yang mengatakan, bahwa Obama seorang Kristen turun dari 48 persen menjadi 34 persen, dan jumlah yang tidak tahu agama presiden mereka meningkat dari 34 persen menjadi 43 persen. Ajudan Gedung Putih mengatakan tidak ada strategi yang disengaja untuk melawan kesan bahwa Obama adalah seorang Muslim. Selama konferensi pers pada 10 September lalu di Gedung Putih, Obama mengangkat iman kristennya sendiri ketika berbicara tentang sentimen anti-Muslim di negara itu. "Sebagai seseorang yang sangat bergantung pada iman Kristen dalam pekerjaan saya," katanya, "Saya mengerti adanya usaha yang dapat meningkatkan keyakinan agama." Pada 19 September, Obama dan keluarga secara mencolok berjalan kaki ke gereja St John Episkopal di seberang Gedung Putih, yang merupakan kunjungan pertamanya ke gereja sejak awal April. Selasa kemarin ia memberikan penjelasan yang rumit tentang iman kristennya di sebuah acara di New Mexico. "Saya seorang Kristen karena pilihan," katanya kepada seorang wanita yang bertanya mengapa dia menjadi seorang Kristen. "Ibuku adalah salah satu orang yang paling relijius yang aku tahu, tapi dia tidak mengangkat nama saya di gereja. "Jadi saya datang ke iman Kristen saya di kemudian hari dan itu karena ajaran Yesus Kristus berbicara kepada saya dalam hal jenis kehidupan yang saya ingin pimpin - menjadi penjaga saudara seiman saya dengan memperlakukan orang lain dengan baik karena mereka akan memperlakukan saya begitu juga. " Ia mengakui bahwa Amerika Serikat adalah negara yang didominasi Kristen, namun dirinya menghormati adanya keragaman agama.(fq/mcclatchydc) sumber : www.eramuslim.com
|
Teman hidup adalah teman yang senantiasa menjadikan hidup lebih hidup. Ia seperti bahan bakar buat nyala api pada sebuah lampu. Cahayanya akan terus menerangi gelapnya malam. Terus dan selalu terus, selama bahan bakar tetap bersisa. Seperti itulah, kira-kira, idealnya suami isteri. Seperti Khadijah binti Khuwailid yang menenteramkan hati Rasulullah saw. ketika pertama kali bertemu Jibril. Seperti Hajar yang mengokohkan hati Ibrahim a.s. ketika harus meninggalkan isteri dan bayinya di bukit tandus tak berpenghuni karena perintah Allah. Juga, seperti Rasulullah yang menyejukkan hati Aisyah ketika fitnah besar memburunya. Nikmatnya berpasangan hidup seperti itu. Baiti jannati, rumahku surgaku. Rumah menjadi tempat yang paling menyenangkan sekaligus menyehatkan. Seperti halnya bengkel, mesin-mesin diri yang semula nyaris rusak tiba-tiba seperti baru setelah keluar dari sana. Karena di tempat itulah suami isteri bisa saling menenteramkan dan menyegarkan. Begitulah mungkin angan-angan Bu Rara. Ibu satu anak ini merasakan ada sesuatu yang lain dalam bahtera rumah tangganya. Lain, karena ia merasa kurang terbuka dengan suaminya. Begitu pun yang ia tangkap tentang suaminya. Suaminya agak kaku kalau cerita tentang banyak hal. Soal pribadi, pekerjaan, anak-anak, dan aktivitas lain. Entah apa yang salah. Rasa-rasanya semua rutinitas rumah tangga berjalan lancar-lancar saja. Hubungan suami isteri tak ada masalah. Ekonomi keluarga lumayan cukup. Anak juga sehat dan menggemaskan. Semuanya biasa. Tak ada masalah. Cuma, yang tadi itu. Ia kok agak canggung dengan suaminya. Beda betul kalau dibandingkan dengan keluarga teman-temannya. Bisa ngobrol sambil berjalan santai. Kemana-mana selalu berdua. Nggak canggung kalau bercanda. Senyum mereka begitu lepas. Tanpa dibuat-buat. Pernah temannya nanya ke Rara. “Kamu kok kalau jalan berdua saling cuek. Seperti belum nikah aja. Kikuk, gitu,” ucap sang teman suatu kali. Pertanyaan itu seolah mengkritik Rara yang terlalu kaku mengamalkan ajaran Islam. Tapi, buat Rara lain. Ia bukan nggak ingin luwes dengan suami. Tapi, nggak bisa. Buat ukuran normal, dua tahun pernikahan bukan waktu yang sebentar. Teramat cukup buat saling mengenal, memahami, dan tentu saja mencintai. Memang sih, Rara mengakui kalau perkenalannya dengan suami hanya dua minggu sebelum pernikahan. Sebelumnya, “Boro-boro kenal, ketemu aja belum pernah.” Begitulah komentar Rara ketika adiknya nanya-nanya soal calon suaminya waktu itu. Buat Rara, justru itulah kebanggaan dirinya. Ia ingin buktikan kepada bapak ibu dan adik-adiknya kalau pernikahan bisa berlangsung tanpa proses pacaran. Yang penting, sama-sama punya niat ikhlas karena Allah. Ikhlas demi melahirkan generasi Islam pilihan. Itu saja. Tapi, kok sekarang seperti ada yang nggak beres. Apa, ya? Rara bukan tidak mau membicarakan itu ke suami. Berkali-kali ia coba. Tapi, selalu saja mandeg ketika sudah saling bertatapan. Semua kata-kata yang sudah disiapkan lenyap. Yang keluar cuma kalimat, “Mau minum, Mas?” Ibu yang semasa gadisnya terkenal sebagai aktivis masjid ini mencoba melihat ke belakang. Menoleh apa yang salah pada dirinya. Bisa-bisa saja ia menyalahkan suami. Tapi, masalah nggak pernah selesai kalau cuma bisa saling menyalahkan. “Ada banyak sebab,” ucap Bu Rara membatin. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu. Semasa gadis, ia memang nyaris tak pernah ngobrol sama laki-laki kecuali bapak. Semua adiknya perempuan. Dan ia anak sulung. Di kampus lebih ketat lagi. Ia seperti tak peduli dengan dunia laki-laki. Ruang kampus bagi Rara cuma tiga: kelas, masjid, dan perpustakaan. Ia benar-benar kuper soal laki-laki. Itulah mungkin kenapa ada rasa takut saat Rara diperkenalkan calon suami. Rara masih ingat betul momen itu. Jantungnya berdetak kencang. Peluh keringatnya bercucuran. Ucapannya terbata-bata seperti orang gagap. Bingung, grogi, takut, malu jadi satu dalam hati Rara. Jangankan bicara luwes, melihat calon suami saja nggak berani. Ia cuma berani menjadi pendengar setia. Anehnya, rasa-rasa nggak enak itu masih melekat. Semula Rara yakin itu masih adaptasi. Tapi, kok lambat amat. Entah kenapa, ia merasa nyaman kalau sendiri. Dan, tiba-tiba kikuk kalau suami pulang dari kantor. Seolah, ada orang asing yang akan masuk rumahnya. Kalau bukan karena sadar bahwa ia sudah bersuami isteri, mungkin Rara sudah kabur dari rumah. Astaghfirullah! Seperti itulah suasana awal adaptasinya dengan suami. Betapa Rara ingin seperti isteri-isteri lain yang begitu hangat terhadap suami. Senyum, sapaan, dan lain-lain. Sepertinya tak ada cara lain buat dirinya. “Ya, mungkin saya mesti mengikis kekhawatiran masa lalu. Harus,” tegas Rara tersadar. Ada satu lagi yang mungkin jadi sebab. Dan itu datang dari suami Rara. Rara khawatir sekali kalau dugaannya itu memang benar. Memang, ada kesenjangan status pendidikan antara Rara dan suaminya. Ia sarjana, sementara suaminya cuma sampai di tingkat tiga fakultas ekonomi. Dan ini sempat jadi bahan penolakan orang tua Rara ketika proses lamaran. Syukurnya, Rara mampu menjelaskan ke orang tua. Buat Rara, beda pendidikan bukan jadi masalah. Yang penting suaminya seorang aktivis Islam. Itu saja. Tapi, entahlah. Rara masih ragu kalau suaminya sudah tak masalah dengan soal itu. Pasalnya, kata-kata orang tuanya saat lamaran dulu memang cukup telak. “Apa anak tidak menganggap masalah menikah dengan wanita yang pendidikannya lebih tinggi?” ucap bapak Rara waktu itu. Rara yakin suaminya bukan orang cengeng. Tapi, ia lagi-lagi bingung mengolah keadaan. Paling tidak, ia bisa tunjukkan kalau soal beda titel tak masalah. Dari dua kemungkinan sebab itu, Rara masih menakar-nakar mana yang lebih dominan. Pada titik ini, Rara ingin memulai apa yang bisa ia lakukan. Dan masalah itu ada dalam dirinya sendiri. “Gimana mungkin mengharapkan perubahan dari suami, kalau diri sendiri belum berubah,” tekad Rara pada dirinya sendiri. Nikmatnya hidup didampingi teman. Teman yang bukan hanya mampu menjaga dan melindungi. Tapi, juga mampu menampilkan diri apa adanya. Sebagaimana nyala lampu yang tak pernah pura-pura. sumber : www.eramuslim.com
|
Panglima perang yang memimpin penyerangan ke Persia, Utbah bin Ghazwan, menerima surat perintah Amirul Mukminin, Khilafah Umar bin Khatthab, meminta agar mengirim sepuluh orang prajurit utama dari pasukannya yang telah berjasa dalam perang. Perintah itupun segera dilaksanakan oleh Utbah. Beliau mengirim sepuluh orang prajuritnya yang terbaik kepada Amirul Mukminin di Madinah, termasuk Ahnaf bin Qais. Berangkatlah mereka ke Madinah menemui Amirul Mukminin Umar ibn Khatthab. Ketika mereka tiba di Madinah langsung disambut oleh Amirul Mukminin dan dipersilahkan duduk di majelisnya. Amirul Mukminin Umar Ibn Khatthab menanyakannya dan kebutuhan rakyat semuanya. Mereka berkata : “Tentang kebutuhan rakyat secara umum Amirul Mukminin lebih tahu, karena Amirul Mukminin adalah pemimpinnya. Maka kami hanya berbicara atas nama pribadi kami sendiri”, ucap diantara prajurit yang hadir di majelis itu. Saat itu, Ahnaf bin Qais mendapatkan kesempatan terakhir berbicara, karena ia terhitung yang paling muda, diantara para prajurit yang ada. Kemudian, Qais berkata : “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya tentara kaum muslimin yang dikirim ke Mesir, mereka tinggal di daerah yang subur menghijau dan tempat yagn mewah peninggalan Fir’aun", ucap Ahnaf. "Sedangkan pasukan yang dikirim ke negeri Syam, mereka tinggal di tempat yang nyaman, bnayak buah-buahan dan taman-taman layaknya istana. Sedangkan pasukan yang dikirim ke Persia, mereka tinggal di sekitar sungai yang melimpah air tawarnya, juga taman-taman buah-buah peninggalan para kaisar”, ujar Ahnaf. Namun kami dikirim ke Bashrah, mereka tinggal di tempat yang kering dan tandus, tidak subur tanahnya dan tidak pula menumbuhkan buah-buahan. Salah satu tepinya laut yang asin, tepi yang satunya hanyalah hamparan yang tandus. Maka perhatikanlah kesusahan mereka wahai Amirul Mukminin. Perbaikilah kehidupan mereka perintahkan gubernur Anda di Bashrah untuk membuat aliran sungai agar memiliki air tawar yang dapat menghidupi ternak dan pepohonan. Perhatikanlah mereka dan keluarganya, ringankanlah penderitaan mereka, karena mereka menjadikan hal itu sebagai sarana untuk berjihad fi sabilillah”, tambah Ahnaf. Umar merasa sangat takjub mendengar uraian Ahnaf, kemudian bertanya kepada utusan yang lain. “Mengapa kalian tidak melakukan seperti yang dia lakukan”, tanya Umar. “Sungguh dia (Ahnaf) adalah seorang pemimpin”, ujar seorang diantara prajurit itu. Kemudian Umar mempersiapkan perbekalan mereka dan menyiapkan perbekalan untuk Ahnaf. Namun, Ahnaf berkata: “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, tiadalah kami jauh-jauh menemui Anda dan memukul perut onta selama berhari-hari demi mendapatkan perbakalan. Saya tidak memiliki keperluan selain keperluan kaumku seperti yang telah saya katakan kepada Anda. Jika Anda mengabulkannya, itu sudah cukup bagi Anda”, tegas Ahnaf. Rasa takjub Umar semakin bertambah, lalu Umar berkata : “Pemuda ini adalah pemimpin penduduk Bashrah”, tegas Umar. Usai mejalis itu dan para utusan meninggalkannya, dan pergi ke tempat menginap yang sudah disediakannya. Umar melayagkan pandangannya ke barang-barang mereka. Dari salah satu bungkusan tersembul sepotong pakaian. Umar menyentuhnya sambil bertanya : “Miliki siapa ini?”. Ahnaf menjawab : “Milik saya Amirul Mukminin”, jawabnya. Kemudian Umar bertanya : “Berapa harganya baju ini tatkala kamu membelinya?”. Ahnaf berkata : “Delapan dirham”, sahutnya. Ahnaf tidak pernah berbohong, kecuali kali ini, yang sesungguhnya baju itu dia beli dengan harga 12 dirham. Umar menatapnya dengan penuh kasih sayang. Dengan halus dia berkata : “Saya rasa untukmu cukup satu potong saja, kelebihan harta yang kau miliki hendaknya kamu pakai untuk membantu muslim lainnya”. Selanjutnya, Umar berkata kepada para prajurit pilihan itu, yang hendak kembali ke Bashrah : “Ambillah bagi kalian yang diperlukan dan gunakan kelebihan harta kalian pada tempatnya, agar ringan beban kalian dan banyak mendapatkan pahala”, Ahnaf tertunduk malu mendengarkan nasihat Amirul Mukminin itu. Perjumpaan Ahnaf dengan Umar berlangsung satu tahun. Umar merasa bahwa Ahnaf adalah kader yang memiliki kepribadian yang mulia setelah mengujinya. Kemudian Amirul Mukminin mengutus Ahnaf untuk memimpin pasukan ke Persia. Umar berpesan kepada panglimanya, Abu Musa al-Asy’ari : “Untuk selanjutnya ikutkanlah Ahnaf sebagai pendamping, ajak dia bermusyawarah dalam segala urusan dan perhatikanlah usulannya”, ujar Umar. Ahnaf memang masih sangat belia. Tetapi, Ahnaf salah seorang tokoh dari Bani Tamim yang sangat dimuliakan kaumnya. Kaum Bani Tamim sangat berjasa dalam menaklukkan musuh, dan mempunyai prestasi yang cemerlang dalam berbagai peperangan. Termasuk dalam peperangan besar menaklukan kota Tustur dan menawan pemimpin mereka, yaitu Hurmuzan. Humurzan adalah pemimpin Persia paling berani dan kuat serta keras. Hurmuzan juga ahli dalam strategi perang, dan berkali –kali menghkhianati kaum muslimin. Tatkala dalam posisi terdesak di salah satu bentengnya yang kokoh di Tustur, dia masih bisa bersikap sombong. “Aku punya seratus batang panah. Dan demi Allah, kalian tidak mampu menangkapku sebelum habis panah-panah ini”, ujarnya. Kemudian pasukan Islam bertanya kepadanya : “Apa yang engkau kehendaki?”. “Aku mau diadili dibawah hukum Umar bin Khatthab. Hanya dia yang boleh menghukumku”, ucap Hurmuzan. Pasukan Islam itu menjawab : “Baiklah. Kami setuju”. Lalu, Humurzan meletakkan panahnya ke tanah, sebagai tanda menyerah. Pasukan Islam yang dipimpin panglima Anas bin Malik dan Ahnaf itu, membawa Humurzan ke Madinah, dan menghadap Amirul Mukminin. Setibanya dipinggiran kota Madinah, mereka menyuruh Humurzan menggunakan pakaian kebesarannya, yang terbuat dari sutera mahal bertabur emas permata dan berlian. Di kepalanya bersemanyam mahkota yang penuh dengan intan berlian yang sangat mahal. Humurzan langsung dibawa ke rumah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, tetapi beliau tidak ada di rumah. Seseorang berkata, beliau pergi ke masjid. Rombongan itu pergi ke masjid, namun tak terlihat ada didalam masjid. Saat rombongan mondar-mandir mencari Amirul Mukminin, salah seorang penduduk berkata: “Anda mencari Amirul Mukminin?” “Benar, di mana Amirul Mukminin?”, ujarnya mereka. Lalu, seorang anak diantara penduduk itu, menyahut: “Beliau tertidur di samping kanan masjid dengan berbantalkan surbannya”. Rombongan itu mendapatkan Amirul Mukminin sedang lelap disamping masjid. Tanpa mendapatkan penjagaan. Memang Umar sangat terkenal kezuhudan dan kesederhanaannya. Tetapi, sesungguhnya lelaki yang zuhud dan sederhana ini telah menaklukan Romawi dan raja-raja lain, dan tidur tanpa bantal dan tanpa pengawal. Kemudian, Humurzan melihat isyarat dari ‘Ahnaf, dan bertanya : “Siapakah orang yang tidur itu?”, tanya Hurmuzan. “Dia Amirul Mukminin Umar bin Khatthab”, jawab Mughirah. Betapa terkejutnya Humurzan, lalu dia berkata : “Umar? Lalu, di mana pengawalnya atau penjaga?”, tambah Hurmuzan. “Beliau tidak memiliki pengawal”, tambah Mughirah. “Kalau begitu, pasti dia nabi”, tambah Hurmuzan. “Tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallam”, tegas Mughirah. Saat Umar terbangun, dan melihat Hurmuzan, dan berkata : “Aku tak sudi berbicara dengannya sebelum kalian melepas pakian kemegahan dan kesombongan itu”, tegas Umar. Mereka melucuti kemewahan pakaian Hurmuzan, kemudian memberikan gamis untuk menutup auratnya. Sesudah itu Umar menjumpainya, dan berkata : “Bagaimana akibat pengkhianatan dan ingkar janjimu itu?” Dengan menunduk lesu, Hurmuzan serta penuh dengan kehinaan ia berkata : “Wahai Umar, pada masa jahiliyah, ketika antara kalian dengan kami tidak ada Rabb, kami selalu menang atas kalian. Tapi begitu kalian memeluk Islam, Allah menyertai kalian, sehingga kami kalah. Kalian menang atas kami memang, karena hal itu, tetapi juga karena kalian bersatu, sedangkan kami bercerai berai”, ungkap Hurmuzan. Penguasa yang sudah kalah dan menyerah itu, merasakan kasih dalam Islam, dan akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadah, dan masuk Islam. Inilah kebesaran Islam, yang telah diteladai para pemimpinnya, dan menjalankan Islam dengan sungguhnya. Tidak sedikitpun mereka berkhianat terhadap Islam, sampai akhirnya musuhpun memeluk Islam, karena merasa mendapatkan kemuliaan dalam Islam. Wallahu’alam. sumber : www.eramuslim.com
|
Baru-baru ini, sebuah salinan kitab suci Alqur'an yang terbilang tertua didunia dipamerkan di kamar bagian manuskrip di Museum Peninggalan Bersejarah Turki dan Islam yang terletak di bilangan Masjid Sultan Ahmet, Istanbul. Salinan Alqur'an tertua itu terdiri dari 250 ribu lembar dan tertulis di atas kertas-kulit berkualitas tinggi. Meski telah berusia ribuan tahun, namun kondisi manuskrip salinan tersebut masih terbilang cukup bagus, dan mengharuskan perawatan ekstra untuk dapat menjaga kondisinya. Di kamar bagian manuskrip tersebut, terdapat pula sekitar 250 manuskrip Alqur'an dalam berbagai bentuk dan ukuran, serta ratusan manuskrip buku-buku Islam klasik lainnya, di samping beberapa manuskrip penting masa peninggalan Imperium Ottoman (Khilafah Utsmaniyyah) Turki. Perdana Menteri Turki Recep Tayyep Erdogan bersama istrinya, Emine Erdogan, menyempatkan waktunya untuk mengunjungi koleksi manuskrip pada museum tersebut, termasuk koleksi manuskrip salinan tertua Alqur'an itu. Selepas melakukan kunjungannya di museum tersebut, Erdogan dan istrinya segera menuju mobil negara dan bertolak. Namun, belum jauh meninggalkan bilangan Sultan Amhet, mobil yang dikendarai Erdogan pun berhenti. Erdogan turun dari mobil tersebut untuk menyalami para penduduk dan berbincang-bincang dengan mereka. (AGS/db) sumber: www.eramuslim.com
|
Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal. Cassie.. menunggu dengan antusias, kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Pukul 18:30, “Tinnn…tinnnnnn…!!”, Cassie melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah. Yang satu langsung menuju kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah letih sehabis kerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie yang tentunya belum mengerti banyak, di otaknya yang kecil Cassie Cuma tahu ia kangen Mama dan Papa dan ia girang Mama dan Papa nya pulang. “Mama, mama…mama, mama…” Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. Mama diam saja. Dengan cemas Cassie bertanya, “Mama, mama… mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?” tiba-tiba… “CASSIE!! KEPALA MAMA LAGI PUSING! KAMU JANGAN BERISIK!!”. Mama membentak dengan suara tinggi. Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama… Cassie salah apa?. Takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya, “Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mangganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?”. Berbagai peristiwa sejenis terjadi, dan otak kecil Cassie merekam semuanya. Maka tahun demi tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak dewasa. “Tinnn….tinnnnnn…!!” Mama pulang, Papa pulang, Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. “Cassie mana?”. “Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya”, jawab si Mbok. Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian, berfikir dengan hati terluka, “Mengapa anakku sendiri yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat dengan orang tua! Tidak seperti jaman dulu”. Di atas, Cassie mengamati kedua orang tua yang paling dicintainya dalam diam, dari jauh, dari tempat dimana ia tidak akan terluka. “Mama, Papa, katakan padaku,bagaimana caranya memeluk seekor landak?"…… [ch.ed45]
|
Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari. Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 - 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36). Sebelumnya, orang arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah. Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab. Orang Arab memberi nama bulan-bulan mereka dengan melihat keadaan alam dan masyarakat pada masa-masa tertentu sepanjang tahun. Misalnya bulan Ramadhan, dinamai demikian karena pada bulan Ramadhan waktu itu udara sangat panas seperti membakar kulit rasanya. Berikut adalah arti nama-nama bulan dalam Islam: MUHARRAM, artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam. SHAFAR, artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki. RABI'ULAWAL, artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninqgalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga. RABIU'ULAKHIR, artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan. JUMADILAWAL nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan. JUMADILAKHIR, artinya: musim kemarau yang penghabisan. RAJAB, artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang. SYA'BAN, artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah). RAMADHAN, artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa peting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaurn muslimin dapat rnenaklukan kaum musyrik dalarn perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik. SYAWWAL, artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang mernbahagiakan. DZULQAIDAH, berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah. DZULHIJJAH artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji. (sa/kaskus/bdm.am.ac/imerzone) sumber : www.eramuslim.com
|
Sebuah organisasi terkemuka Koptik Mesir pada hari Ahad kemarin (26/9) mengecam dan menyatakan pernyataan institusi berpengaruh Muslim negara itu, Al-Azhar tidak dapat diterima, karena menggambarkan Mesir sebagai negara Islam. Organisasi Koptik "Mitra bagi Bangsa," yang dikenal dengan nama bahasa Arab sebagai Syurakaa, merilis pernyataan yang mengatakan, "Masyarakat Koptik sekuler sepenuhnya menolak pernyataan al-Azhar bahwa Mesir adalah negara Islam. Negara kita adalah negara sipil." Sekuler Koptik dan pimpinan organisasi Mamdouh Ramzi menuntut Al-Azhar untuk menarik pernyataannya dan Al-Azhar harus bertanggung jawab atas segala konsekuensi dari pernyataan mereka tersebut, yang menurut Ramzi bisa menyebabkan Mesir menuju jalur berbahaya. "Kami menolak sebuah negara agama dan tidak ada lembaga agama harus ikut campur dalam masalah politik atau memotong peran negara," kata Ramzi dalam wawancara dengan Al Arabiya. Dia menambahkan bahwa ungkapan "Mesir sebuah negara Islam" adalah benar-benar salah dan pernyataan tersebut berusaha untuk menyebarkan permusuhan antara Muslim dan Kristen Koptik di Mesir dan merusak upaya menuju demokrasi. Dia menambahkan bahwa upaya untuk menerapkan hukum Islam mungkin akan menyebabkan situasi yang sama dengan yang terjadi di Sudan. Tawaran pemimpin Sudan untuk menerapkan hukum Islam telah membuat wilayah selatan yang mayoritas Kristen menuntut pemisahan diri. Sebelumnya lembaga Islam tertinggi Mesir mengeluarkan pernyataan hari Sabtu lalu mengkritik seorang uskup Koptik senior yang membantah keaslian ayat-ayat dari Quran, dan memberi peringatan bahwa pernyataan tersebut mengancam persatuan nasional Mesir. Pemimpin kelompok oposisi Mesir Ikhwanul Muslimin, Muhammad Badii juga mendesak umat Islam untuk merespon siapapun yang memfitnah kitab Allah atau nabi Muhammad SAW.(fq/aby) sumber : www.eramuslim.com
|
Dalam Syafari Syawal dan Halal Bihalal sekaligus kunjungan kerjanya di beberapa kabupaten di Jawa Tengah, Menteri Sosial Dr. Salim Segaf Al-Jufri didampingi Bupati Jepara, Hendro Martojo dan anggota DPR Komisi VIII HM Busyro, semalam menyampaikan tausiyah di Masjid Agung Jepara. “Islam agama kedamaian. Seorang muslim adalah juru damai. Orang yang menimbulkan kekacauan dan permusuhan, jauh dari esensi Islam,” jelas Mensos di hadapan sepuluh ribu Jam’iyah Ahbabul Musthofa. Menurutnya, Iman berasal dari kata aman. Seorang mukmin adalah orang yang menimbulkan keamanan. Mereka yang menyebarkan ketakutan dan teror bertentangan dengan esensi iman. ”Karena itu agama mana pun tidak mengajarkan kekerasan,” masih menurut jebolan sarjana syariah Universitas Saudi ini. Ia menegaskan, ”Siapa pun, jangan menisbatkan stigma terorisme kepada umat Islam!” Ungkapan keprihatinan dan arahan dari Mensos ini seperti mewakili sekian banyak aktivis dan ulama Islam di negeri ini yang seperti dipojokkan dengan stigma aktivis Islam sebagai teroris. Seperti diketahui publik, bahwa pasukan elit Polri binaan Amerika dan Australia ini kerap melakukan penangkapan dan penembakan kepada para aktivis Islam yang diduga sebagai pelaku terorisme. Tanpa didahului dengan surat penangkapan dan prosedur yang semestinya, seperti yang disampaikan LBH Medan, mereka langsung menembaki dan menangkap secara membabi buta. (Mnh/spt) sumber : www.eramuslim.com
|
Seorang bayi Palestina dilaporkan meninggal di rumah sakit pada hari Jumat malam (24/9) kemarin, sebagai akibat dari tembakan gas air mata di pinggiran utara Yerusalem, atau tepatnya di Eisaweyyah. Sebuah sumber di Yerusalem memberitahu Palestine Information Center bahwa Muhammad Abu Sneimah yang baru berusia 12 bulan dibawa ke rumah sakit. Ia dibawa setelah menderita kesulitan bernapas akibat menghirup gas air mata yang ditembakkan secara ekstensif oleh pasukan Israel yang menyerang Eisaweyyah pada Kamis malam. Saat itu memang terjadi konfrontasi antara pemuda Palestina dan pasukan Israel yang menyerbu daerah pinggiran Eisaweyyah pada Kamis malam dan pasukan Israel menembakkan peluru karet berlapis. Juga ditambah tabung gas air mata pada para pemuda Palestina. Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa terjadi konfrontasi lainnya pada hari Jumat malam kemarin dan hasilnya kematian bayi Palestina tersebut. Protes pecah di Yerusalem setelah Yahudi membunuh seorang pemuda Palestina hari Rabu pagi dan pembunuh itu dibebaskan pada malam harinya. (sa/pic) sumber : www.eramuslim.com
|
Wartawan legendaris AS, Bob Woodward dalam buku terbarunya yang berjudul "Obama's Wars" telah mengguncang Washington dengan memuat berita perselisihan dan pertikaian antara para ajudan Presiden Barack Obama atas apa yang harus dilakukan di Afghanistan. Dalam buku tersebut, Woodard mengungkapkan ketidakpercayaan dikalangan internal dan pertarungan antara tim keamanan nasional Gedung Putih dan adanya klaim Obama yang mendikte strategi perang enam-halaman setelah frustrasi dengan sikap Pentagon. Buku, yang akan dirilis Senin depan, melukiskan pemerintahan Obama harus 'bertikai' selama perang di Afghanistan, bahkan sewaktu presiden Obama setuju untuk penambahan tiga kali lipat pasukan di tengah adanya kecurigaan bahwa Obama sedang dimasukkan kedalam 'kotak' oleh militer. Informasi dalam buku ini bisa menciptakan keadaan kecemasan yang tak terselesaikan bagi para pembaca, seperti ketika penasehat tinggi Obama di Afghanistan dan utusan khusus nya untuk wilayah ini yang digambarkan meyakini strategi di Afghanistan tidak akan bekerja. Yang paling mengejutkan dalam tulisan wartawan ini adalah bahwa buku ini juga melaporkan bahwa AS mempunyai laporan intelijen yang menunjukkan bahwa Presiden Afghanistan Hamid Karzai didiagnosis sebagai orang yang mengalami depresi. Judul buku "Obama's Wars" tampaknya dimaksudkan untuk merujuk tidak hanya pada konflik di Afghanistan, tetapi juga konflik antara tim keamanan nasional Presiden. Pertarungan internal merajalela di seluruh buku ini. Meskipun perpecahan internal telah menjadi rahasia publik, buku itu menunjukkan bahwa mereka bahkan lebih intens dan berbeda dari yang sebelumnya diketahui orang dan menawarkan detail-detail yang lebih baru. Wakil Presiden Biden dikutip dalam buku itu, menelepon Richard Holbrooke, wakil khusus presiden untuk Afghanistan dan Pakistan dan menyebutnya "bajingan paling egois yang pernah kutemui." Bob Woodward mengungkapkan presiden sangat bertentangan dengan penasihat militer Jenderal David Petraeus dan Laksamana Mike Mullen, ketua Gabungan Kepala Staf militer. Woodward menulis bahwa perbedaan pendapat berubah menjadi nama panggilan di kedua sisi, Post melaporkan. Pada satu titik, Petraeus merasa dikucilkan dan mengatakan seorang pembantu Obama serta menganggap penasihat Obama David Axelrod sebagai "complete spin doctor." Beberapa pejabat pemerintah menyatakan penghinaan terhadap Jenderal James Jones, pensiunan jenderal Marinir yang merupakan penasehat keamanan nasional Obama. Sementara dia pribadi menyebut mereka sebagai "Politbiro", "Mafia," atau "kutu air" . Wartawan Bob Woodward terkenal untuk karyanya, bersama dengan wartawan Carl Bernstein yang mengungkapkan skandal Watergate yang akhirnya menyebabkan pengunduran diri mantan Presiden Richard Nixon.(fq/arabnews) sumber : www.eramuslim.com
|
Sebuah penyelidikan PBB Rabu kemarin (22/9) mengatakan ada bukti yang jelas untuk mendukung penuntutan terhadap Israel atas "pembunuhan yang disengaja" dan penyiksaan yang dilakukan pasukan komando Israel ketika menyerbu armada bantuan yang menuju Gaza pada bulan Mei lalu. Penyelidikan itu atas perintah oleh Dewan HAM PBB yang mengatakan Israel menggunakan "kekerasan yang tidak perlu" selama serangan tersebut. Serangan Israel di armada kebebasan yang menuju Gaza telah yang menewaskan sembilan aktivis kemanusiaan Turki, merupakan pelanggaran berat terhadap hukum hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan internasional," AFP mengutip laporan dari PBB. Laporan ini juga menolak tuduhan Tel Aviv yang menyatakan bahwa aktivis di kapal armada terbesar, MV Mavi Marmara, telah melakukan kekerasan sehingga membenarkan keputusan tentara Israel melepaskan tembakan, sembari menambahkan bahwa beberapa aktivis tewas adalah korban tindakan yang tidak sesuai prosedur.. " Armada bantuan, yang diselenggarakan oleh Free Gaza Movement dan Yayasan Turki untuk Hak Asasi Manusia dan Kebebasan dan Bantuan Kemanusiaan, membawa bantuan kemanusiaan, obat-obatan, dan bahan bangunan ke Gaza yang berada di bawah blokade ketat Israel sejak gerakan perlawanan Palestina, Hamas mengambil alih kontrol wilayah itu pada bulan Juni 2007. Penyelidikan PBB juga menyebut Israel telah melakukan pelanggaran hukum berkelanjutan dengan memblokade Gaza sehingga menyebabkan kerusakan fisik dan mental yang besar kepada warga Gaza. "Blokade ini merupakan pelanggaran hukum dan tidak dapat dipertahankan dalam hukum. Bagaimanapun tidak ada alasan yang tepat untuk membenarkan legalitas blokade terhadap Gaza," kata laporan penyelidikan. Laporan penyelidikan ini diharapkan akan dipresentasikan kepada Dewan HAM PBB pada hari Senin mendatang.(fq/prtv) sumber : www.eramuslim.com
|
Makin hari, hidup semakin canggih. Dunia semakin dipenuhi dengan berbagai fitur kemudahan, familiar, cepat dan menyenangkan. Kita bisa mengakses berbagai informasi hanya dengan hitungan detik. Tidak perlu menunggu terlalu lama yang membosankan. Dunia benar-benar semakin “mewah” dan instan dengan kehadiran teknologi. Dunia terasa mengecil dengan kemajuan IT yang mementahkan jarak pandang, jarak dengar dan jarak bicara. Sekarang, orang di satu belahan benua dapat langsung berinteraksi dengan orang lain seolah tanpa sekat. Seolah-olah Jakarta-Jeddah, Depok-Capetown atau Indramayu-Den Haag berhasil disederhanakan dengan layar mobile phone, Facebook, Twitter, YM atau apalah namanya itu. Dunia terasa semakin mudah dijelajahi karena kecerdasan otak manusia yang membesar. Dalam urusan ini, manusia menunjukkan bahwa kehadirannya lebih maju berkali-kali dari makhluk Tuhan yang lain. “Assalamu’alaikum, halo Ayah?” “Wa’alaikumussalam, ya halo. Bagaimana kabarmu, Nak?” “Baik, Ayah. Kami semua sehat-sehat. Ayah bagaimana, sehat juga kan?” “Alhamdulillah. Ayah dan Bunda baik-baik dan sehat walaupun cuaca di sini dingin sekali. Esok Ayah dan seluruh jamaah akan wukuf. Doakan agar semuanya lancar.” “Aamiin. Semoga Ayah dan Bunda menjadi haji yang mabrur. Assalamu’alaikum.” Bersyukurlah kita dengan kehadiran teknologi komunikasi. Illustrasi di atas hanya sebagian kecil contoh bahwa otak manusia kadang seribu kali lebih besar daripada tubuhnya. Sehingga jarak bicara Jakarta-Saudi bukan lagi sebuah persoalan. Otak manusia telah berhasil memecahkan problem jarak itu dengan perangkat buatannya. Maka, orang yang tengah beribadah di tanah suci dapat selalu memantau keadaan keluarganya di tanah air. Begitu juga sebaliknya. Sekarang banyak komunitas Muslim tengah menikmati medium sillaturrahim digital. Di mana komunikasi dan interaksi dibangun tanpa mereka harus berada dalam satu ruang dan waktu yang bersamaan. Mereka hanya dihubungkan oleh software yang menghadirkan mereka dalam dunia maya bersifat komunal. Cepat, epektif dan efisien menjadi trademark sillaturrahim cara ini. Dan tentunya modern. Sillaturrahim digital sangat relevan dalam kondisi-kondisi tertentu. Handphone atau Facebook misalnya. Dalam kehidupan modern yang menuntut kita serba cepat,Handphone dan Facebook sangat cocok mewakili tuntutan kelas manusia modern untuk mendampingi kehidupan komunikasi mereka di zaman ini. Namun, betapapun gagahnya modernitas itu, ia tidak bisa melumpuhkan nilai luhur silaturrahim konvensional yang selama ini mengakar kuat dalam praktik kehidupan kita. Ada yang tidak bisa dihadirkan oleh IT dalam sillaturrahim, yakni kehangatan, senyum, taraahum, tafaahum, secangkir teh dan jiwa ukhuwwah dalam jabat tangan atau peluk cium. Meskipun bercengkrama, layar Hanphoneatau Facebook tetap rigid, kaku dan mekanis. Nyatanya, banyak Facebooker tetap saja mengejar pulang kampung atau mudik saat lebaran. Mengapa? Apakah tidak cukup mengucapkan selamat Idul Fitri di akun Facebooknya? Atau menguntai kata-kata mutiara yang panjang dan mempesona walaupun ujung-ujungnya minta maaf lewat SMS? Tidak, tidak cukup. Karena baik Facebook maupun SMS, tidak nyata menghadirkan kehangatan, senyum, taraahum, tafaahum, secangkir teh dan jiwa ukhuwwah dalam jabat tangan atau peluk cium. Mereka mendapatkan semua itu melalui sillaturrahim konvensional dengan muwajjahah dengan orang tua, karib-kerabat, handai-tolan atau kawan karib di kampung halaman. Sesudahnya, barulah masing-masing bercerita di layar Facebook atau SMS dalam komunitas pertemanannya secara massal. Begitulah kecanggihan teknologi yang mekanis tidak selamanya bisa menghadirkan harapan manusiawi dalam satu waktu. Meskipun dalam waktu yang lain, kita semua amat “bergantung” pada kesaktian dan keunggulannya. Anehnya, masih tersisa manusia dengan isi otak yang cerdas itu dan isi hati yang berperasaan itu, mengerdilkan martabatnya di bawah ketiak teknologi rekayasa mereka sendiri. Mereka secara tidak sengaja menjadi kelihatan lebih ‘tolol” dari sekadar HP atau Internet. Seolah-olah mereka begitu “beriman” kepada teknologi hampir sepadan dengan keimanannya kepada Allah dan Rasulullah. Ah, jangan-jangan itu hanya ilusi dan soal yang terlalu didramatisasi belaka. Bukan. Ini adalah kenyataan meskipun kenyataan itu tidak merata dan hanya terjadi sebatas kasus yang tidak dapat dipukul rata begitu. Dalam satu kesempatan berjama’ah, kali itu saya merasa kenikmatan berjum’at menjadi hilang. Saya sedikit terusik dengan ulah beberapa orang dari jamaah yang tidak mengindahkan khatib yang sedang berkhutbah. Ada di antara mereka yang asyik main game di HP, SMS-an bahkan mengangkat panggilan telpon saat jamaah lain khusyuk menyimak nasihat khatib. Bahkan yang amat “menyebalkan” saya, ada di antaranya yang masih menyumpal telinganya dengan headset yang terhubung dengan Blackberrynya. Paling tidak, ada lima pelanggaran sekaligus yang mereka lakukan. Pertama, menjadikan teknologi hampir seperti ”tuhan” yang mereka sembah. Kedua, mengabaikan pesan pengurus masjid agar sebelum Jum’atan dimulai agar menonaktifkan berbagai alat komunikasi. Ketiga, mengganggu kekhusukan jamaah lain. Keempat,melecehkan kehadiran khatib dan keagungan hari Jum’at. Dan kelima, melecehkan ucapan Rasulullah berikut : أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ Abu Hurairah mengabarkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jum'at 'diamlah', padahal Imam sedang memberikan khutbah maka sungguh kamu sudah berbuat sia-sia (tidak mendapat pahala)." (HR. Bukhari No. 882). Belum lagi jika adzan telah berkumandang, sejujurnya masih ada di antara Muslim yang masih mamatut-matut di layar Facebook. Tapi hati-hati, bisa saja layar Facebooknya online, namun usernya sedang berdiri berjamaah di masjid. Bisa saja. Teknologi atau Muslimnya sih yang salah? Ada yang berargumen: ”Teknologinya yang salah, sebab kehadirnnya memancing orang dan membentuk mindsetorang untuk berbuat salah. Kalau tidak dibuat HP-HP atau facebook itu, orang itu tidak akan mengabaikan segala tata tertib dan sarat rukun berjum’at. Makanya jangan terlalu ”beriman” kepada buatan orang kafir. Buatan orang kafir lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya.” Ada lagi argumen yang lain: ”Bukan, bukan teknologinya yang salah, tapi orang Muslim itu yang tidak dewasa berhadapan dengan teknologi. Bagaimana pun, kehadiran teknologi hanya sebatas sarana. Ia hanya berfungsi bila dijalankan oleh manusia. Manusianya saja yang tidak mengerti aturan saat kapan dan di mana teknologi itu dimanfaatkan. Toh, HP itu tidak menuntut kalo dia dimatikan saat sedang Jum’atan.” ”Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya aku takut kepada Allah.' Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (terjemah QS. Al-Anfal [8] : 48). Oleh : Abdul Mutaqin sumber : www.eramuslim.com
|
Pasukan keamanan Israel dilaporkan kembali menyerbu Masjid Aqsha di Yerusalem pada hari Rabu (22/9) dengan dalih mengejar para anak muda Palestina yang melemparkan batu kepada mereka. Jerusalemite mengatakan bahwa polisi mengejar para pemuda itu setelah pembunuhan Samer Sarhan, 30 di tangan pemukim Zionis di pinggiran Silwan, Yerusalem. Mereka mengatakan 15 orang Palestina cedera dalam bentrokan itu, dan salah seorang berada dalam kondisi yang serius, dan banyak lainnya yang ditahan. Fakhri Abu Diyab, seorang anggota komite untuk pertahanan Silwan, mengatakan bahwa delapan helikopter Israel melayang-layang di atas kota suci, menambahkan ketegangan yang masih berjalan tinggi di Silwan dan pinggiran kota lainnya. Sebelumnya pada hari Rabu, penduduk Silwan menguburkan Sarhan di pemakaman. Prosesi ini dihadiri oleh massa besar-besaran. Sumber lokal mengatakan bahwa polisi Israel juga menyerang prosesi pemakaman dan menembakkan gas air mata kepada orang-orang yang sedang berkabung itu. (sa/pic) sumber: www.eramuslim.com
|
|
|